TikTok : Dahulu di Hujat, Sekarang Kecanduan.
Menurut
Store Intelligence dari Sensor Tower yang dikutip dari kompas.com, pada akhir
2019 Tik Tok menempatkan diri pada posisi ketiga setelah WhatsApp dan Messenger
sebagai aplikasi non-gaming yang banyak diunduh dari Android dan iOs dengan
jumlah pengguna aktif mencapai 500 juta. Kemudian, baru disusul aplikasi
Instagram dan Facebook. Selain itu, di tahun 2018 TikTok menerima penghargaan dari
Google Play sebagai “Aplikasi Paling Menghibur” dan “Aplikasi Terbaik”.
Pengamat
media Universitas Airlangga Irfan Wahyudi berpendapat bahwa Tik Tok juga dapat
digunakan untuk membentuk personal branding. Para influencer membangun persona agar mendapatkan followers Tik Tok sebanyak
mungkin, hal tersebut dimaksudkan untuk membuka peluang endorse yang lebih
besar.
Walau
dahulu sempat di blokir oleh Kominfo dan di hujat warganet, namun TikTok
sekarang membuat kecanduan bagi penggunanya sebagai media unjuk kreativitas dan
menghasilkan sebuah karya. Para pengguna bisa dengan mudah membuat video
menggunakan efek yang bisa diedit dengan mudah dan cepat. Ditambah dengan
dukungan beragam stiker, transisi video, musik, dan banyak fitur lainnya membuat
pengguna semakin betah berkreasi dengan karya mereka. Kalangan artis dan
beberapa selebgram juga membuat video TikTok dan mengunggahnya pada Instagram
akun mereka sebagai konten hiburan saja, bahkan 3 Gubernur Anies Baswedan,
Ganjar Pranowo & Ridwan Kamil pun juga terhibur saat membuat video #AnySongcCallange di acara Mata Najwa.
“Media
sosial dalam konstruksinya adalah tentang status. Media sosial
merepresentasikan kita, menunjukkan ke orang-orang, bahwa mereka keren,
mendapatkan likes dan komentar, dan hal-hal semacam itu. Para pengguna membuat
konten di TikTok untuk memperlihatkan talenta, bukannya status social.” kata Evan
Spiegel, CEO Snapchat yang dikutip Tekno Liputan6.com dari The Next Web, Rabu
(22/1/2020). Melalui Business Insider, Spiegel memprediksi bahwa TikTok
berpotensi melengserkan Instagram dalam hal popularitas.